




Skandawa Wajo, 11 Juli 2026 – SMK Negeri 2 Wajo kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan vokasi melalui pelaksanaan In House Training (IHT) bertema Teaching Factory (TEFA) yang diikuti oleh seluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam menyelaraskan proses pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja dan industri, sekaligus memperkuat implementasi pembelajaran mendalam (Deep Learning) berbasis Teaching Factory.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala SMK Negeri 2 Wajo, Bapak Muhammad Jaenal, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perubahan paradigma pendidikan vokasi harus diikuti dengan perubahan cara berpikir, cara mengajar, dan cara mengelola pembelajaran.
“Teaching Factory bukan sekadar program, tetapi budaya kerja yang harus tumbuh di sekolah. Melalui IHT ini, saya berharap seluruh guru memiliki pemahaman yang sama sehingga mampu menghadirkan pembelajaran yang benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ungkap beliau.
Menghadirkan Bapak H. Mustafa Tope, S.ST.Par., M.Pd., CT sebagai narasumber, peserta mendapatkan materi yang komprehensif mengenai implementasi Teaching Factory. Bapak H. Mustafa merupakan praktisi dan fasilitator nasional yang memiliki pengalaman luas di bidang pendidikan vokasi. Beliau tercatat sebagai Pejabat Teknis TEFA BLUD PPK SMK Negeri 4 Makassar, Manajer Sertifikasi LSP P3 Phinisi, anggota tim penyusun berbagai panduan pembelajaran mendalam Kemendikdasmen, serta fasilitator nasional Kurikulum Merdeka dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Sesi Pertama: Membangun Fondasi Teaching Factory
Sesi pertama dipandu oleh Arni Susanti Oktavia, M.Pd. Sebelum memasuki inti materi, narasumber mengajak seluruh peserta menuangkan “Pohon Harapan”, sebuah aktivitas reflektif untuk menggambarkan harapan dan komitmen guru terhadap implementasi Teaching Factory di SMKN 2 Wajo.
Dalam paparannya, Bapak H. Mustafa menjelaskan bahwa Teaching Factory merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan pencapaian kompetensi kurikulum dengan proses produksi sesuai standar dunia kerja sehingga menghasilkan lulusan yang kompeten sekaligus berkarakter.
Beliau juga menekankan pentingnya Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang berorientasi pada pengembangan dimensi profil lulusan, meliputi keimanan dan ketakwaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, komunikasi, kemandirian, kewargaan, dan kesehatan. Pembelajaran tersebut dilaksanakan melalui prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, dengan pengalaman belajar yang menekankan proses memahami, mengaplikasikan, dan merefleksi.
Sebagai penguatan filosofis pendidikan vokasi, narasumber juga mengulas 16 Dalil Prosser, khususnya prinsip bahwa lingkungan belajar harus menyerupai lingkungan kerja nyata sehingga peserta didik terbiasa dengan budaya industri sejak berada di bangku sekolah.
Suasana pelatihan semakin hidup melalui sesi tanya jawab dan diskusi, di managuru aktif mengemukakan berbagai tantangan dalam mengimplementasikan Teaching Factory di masing-masing program keahlian.
Sesi Kedua: Presentasi Business Model Canvas (BMC) Teaching Factory
Setelah istirahat dan Salat Zuhur berjamaah, kegiatan dilanjutkan pada sesi kedua yang dimoderatori oleh Ibu Andi Dadiana F., S.Si., M.Pd.
Fokus sesi ini adalah presentasi Business Model Canvas (BMC) Teaching Factory dari setiap program keahlian sebagai langkah awal membangun unit layanan dan produksi berbasis industri. Penyusunan BMC menjadi bagian penting dalam memahami alur bisnis, nilai produk, pelanggan, mitra, hingga strategi keberlanjutan unit Teaching Factory.
Adapun konsep Teaching Factory yang dipresentasikan meliputi:
1. Teknik Elektronika Industri (TEI) : Cool Care Skandawa
2. Agribisnis Perikanan Air Tawar (APAT) : Budidaya Ikan Nila
3. Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) : RPL Tech Studio
4. Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) : Sipakainge Digital Finance
5. Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) : SMKN 2 Wajo TBSM Garage
6. Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO) : SMKN 2 Wajo TKRO Garage
Setiap tim memaparkan ide layanan, segmentasi pelanggan, nilai tambah produk, serta strategi pengembangan unit Teaching Factory yang akan dijalankan di lingkungan sekolah. Paparan tersebut kemudian mendapatkan penguatan, masukan, dan umpan balik langsung dari narasumber agar semakin sesuai dengan standar dunia industri.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi, di mana seluruh peserta diajak merumuskan komitmen bersama untuk mengimplementasikan hasil pelatihan dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Menuju Skandawa yang Semakin Adaptif dan Berdaya Saing
Pelaksanaan IHT ini menjadi langkah strategis SMKN 2 Wajo dalam memperkuat budaya kerja profesional di lingkungan sekolah. Melalui pemahaman yang sama tentang Teaching Factory, diharapkan setiap program keahlian mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan kompetensi, tetapi juga menghasilkan produk dan layanan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Semangat kolaborasi yang terbangun sepanjang kegiatan menjadi modal penting bagi SMKN 2 Wajo untuk terus bertransformasi menjadi sekolah vokasi yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing, sejalan dengan visi Skandawa Cekatan dalam mencetak lulusan yang siap bekerja, berwirausaha, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.