


Mutu pendidikan tidak lahir dari kebetulan. Ia dibangun dari kebiasaan baik, dipelihara dengan evaluasi, dan dikuatkan oleh manusia-manusia yang terus mau belajar. Itulah benang merah yang tergambar dalam Laporan Kinerja Bidang Manajemen Mutu dan Pengembangan Sumber Daya Manusia SMK Negeri 2 Wajo Tahun Pelajaran 2025/2026 yang disusun oleh Ibu Andi Dadiana Fatahudddin, M.Pd.
Laporan ini menjadi cermin perjalanan sekolah dalam memperkuat fondasi mutu, membangun budaya reflektif, dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia sebagai jantung penggerak pendidikan.
Salah satu langkah awal yang menjadi pondasi adalah pelaksanaan Rapat Kerja (Raker) pada Juni 2025 yang berhasil menghimpun laporan pertanggungjawaban periode sebelumnya sekaligus menyusun draft program kerja setiap komisi untuk Tahun Pelajaran 2025/2026. Forum ini menjadi ruang penting untuk menyatukan arah, karena sekolah tanpa evaluasi ibarat kapal tanpa kompas.
Dalam aspek layanan akademik, Bidang Manajemen Mutu menyusun Panduan Akademik sebagai acuan bagi guru dan siswa dalam memahami aturan dasar, hak, kewajiban, serta program pembelajaran yang akan dijalani selama satu tahun. Meskipun distribusi fisiknya belum sepenuhnya terlaksana, penyampaian lisan melalui apel pagi dan kunjungan kelas dinilai cukup efektif.
Salah satu inovasi penting yang berhasil dijalankan adalah MY PROFILE (Mapping Your Potential, Relationship, Orientation, Family, Interest, Learning & Emotion). Program ini menjadi instrumen awal untuk memetakan gaya belajar, minat, bakat, kondisi sosial ekonomi, hingga kondisi emosional siswa. Data ini kemudian menjadi bekal bagi guru, wali kelas, dan guru BK dalam merancang pembelajaran yang lebih empatik dan tepat sasaran.
Dalam penguatan budaya sekolah, program SAHABAT KELAS hadir sebagai ruang pendampingan budaya positif di kelas melalui observasi ringan dan dialog positif. Pendekatannya bukan mencari salah, melainkan memperkuat yang sudah baik—sebuah cara sederhana, tapi sering justru paling efektif.
Sementara itu, Lomba 7K terus dijalankan untuk menumbuhkan budaya bersih, sehat, aman, dan tertib di lingkungan sekolah. Penilaian dilakukan secara berkala dan diumumkan setiap upacara bendera, menjadikan kebersihan bukan sekadar tugas, tapi bagian dari karakter. Meski demikian, evaluasi menunjukkan perlunya penguatan pendampingan dari wali kelas dan pemberian reward yang lebih bermakna.
Dalam pengelolaan mutu berbasis data, Tim Manajemen Mutu juga melakukan analisis indikator Rapor Pendidikan sebagai dasar penyusunan RKT dan RKAS, mencakup aspek literasi, numerasi, karakter, iklim keamanan, mutu pembelajaran, hingga link and match dengan dunia kerja. Ini langkah penting, sebab keputusan tanpa data sering hanya jadi tebak-tebakan yang dibungkus rapat.
Pada aspek pengembangan guru, program Observasi Penilaian Kinerja Guru (PKG) telah menjangkau 24 dari total 47 guru ASN pada tahap pertama. Mayoritas guru memperoleh predikat “Dilakukan dan Efektif”, menunjukkan kualitas performa yang cukup baik dalam proses pembelajaran. Sisanya akan dilanjutkan pada semester berikutnya.
Bidang ini juga menyelenggarakan In House Training (IHT) selama dua hari dengan menghadirkan narasumber internal dan eksternal, membahas pendekatan pembelajaran mendalam, coding, dan AI. Sebuah sinyal bahwa pendidikan vokasi tidak boleh alergi terhadap perubahan zaman. Hari ini guru yang berhenti belajar, besok akan tertinggal oleh muridnya sendiri.
Selain itu, Komunitas Belajar (Kombel) menjadi ruang berbagi praktik baik antar guru, meski pelaksanaannya masih perlu diperkuat agar lebih konsisten dan relevan dengan kebutuhan nyata guru di lapangan.
Sebagai bentuk penghargaan, sekolah juga melaksanakan program Apresiasi GTK berbasis data dengan menjaring aspirasi dari siswa, sesama guru, dan kepala sekolah untuk menentukan guru berprestasi secara objektif. Ini penting, sebab penghargaan yang lahir dari data lebih jujur daripada sekadar tepuk tangan seremonial.
Secara keseluruhan, Tahun Pelajaran 2025/2026 menjadi tahun pembelajaran besar bagi Bidang Manajemen Mutu dan Pengembangan SDM SMKN 2 Wajo. Ada yang berhasil, ada yang belum maksimal, tapi begitulah mutu bekerja—ia tumbuh pelan, seperti akar pohon yang diam-diam menguat sebelum batangnya menjulang.
Ke depan, penguatan budaya refleksi, konsistensi komunitas belajar, digitalisasi instrumen pendampingan, serta peningkatan kualitas guru akan menjadi fokus utama.